Mendidik Anak Tanpa Harus Berdebat dan Di Lawan

Hampir semua anak berperilaku tidak sesuai dengan harapan. Kadang mereka tantrums (nangis berguling-guling saat minta sesuatu atau dilarang melakukan sesuatu), menguji aturan, berkelahi, menolak untuk melakukan kegiatan rutin yang biasanya dilakukan, berbicara dengan bahasa yang buruk – catatan akan terus ada. Perilaku yang tidak sesuai terjadi pada setiap tahap perkembangan. Anak-anak melakukan eksperimen dan mencoba menemukan perilaku yang tepat dan juga sejauh apa batasannya. Remaja mungkin melawan dalam usaha untuk menyampaikan kemandiriannya, satu kunci tugas perkembangan anak, saat remaja.
Ortu menggunakan disiplin untuk mengajar anaknya aturan dan batasan serta konsekuensi dari perilaku yang salah. Disiplin bukan menghukum atau konflik antara ortu dan anak. Disiplin adalah membantu anak untuk belajar dari kesalahannya dan mengembangkan kendali diri. Semua anak membutuhkan rasa aman yang datang dari pemahamannya tentang aturan dan batasan perilaku, tanpa hal ini anak akan merasa tidak aman dan nyaman.
Fleksibilitas adalah kunci disiplin saat anak tumbuh. Ortu perlu merubah pendekatan disiplin sesuai dengan waktu, menggunakan strategi yang berbeda saat anak mulai menunjukkan otonomi dan memiliki kapasitas untuk mengatur dirinya sendiri dan bertanggung jawab.
Salah satu tantangan ortu adalah mendisiplinkan anak. Antara usia dua tahun sampai 10 tahun, anak seperti busa, dan mereka belajar dan menyerap apapun yang ada di sekelilingnya. Anak meniru perilaku ortu. Tugas ortu adalah membimbing, memberi kasih sayang, dan juga memberikan bantuan agar anak dapat mengendalikan dorongan dalam dirinya. Tidak pernah mudah sebenarnya mendisiplinkan anak, tapi jika anda ingat arti dari disiplin adalah melatih anak untuk dapat mengendalikan dorongan dari dalam dirinya sehingga tercapai tujuan yang mulia, maka mendidik anak tidak sesulit yang anda bayangkan.
Mendisiplinkan anak tidak sama dengan menghukum, bukan membully. Tujuan disiplin adalah menjadikan anak bahagia dan produktif (memberikan hasil karya nyata untuk kehidupan ini).
Mulailah dengan ATURAN:
Anak membutuhkan keteraturan dalam hidup. Buatlah lingkungan yang dapat ditebak anak dan anak mengharapkan anda sebagai ortu juga dapat ditebak. Agar anak mendapatkan keteraturan di rumah, ortu perlu membuat aturan di rumah. Anak perlu memahami aturan, apa yang terjadi ketika aturan dilanggar, dan juga apa yang terjadi ketika anak mengikuti aturan.
 Ortu perlu membuat aturan. Cukup empat sampai lima aturan. Aturan sebaiknya dalam bentuk kalimat lengkap
 Contohnya:
o Setiap anggota keluarga tertib waktu dalam mengikuti kegiatan rutin sehari-hari
o Setiap anggota keluarga menghormati dan menghargai seluruh anggota
o Setiap anggota keluarga bertanggung jawab terhadap kebersihan, kerapihan dan keindahan dirinya dan lingkungan rumah
o Setiap anggota keluarga memberikan hasil yang terbaik terhadap tugas yang diberikan
o Setiap anggota keluarga boleh bersenang-senang setelah menyelesaikan tugasnya
 Aturan ini perlu dijelaskan kepada anak. Minta anak untuk menyebutkan bagaimana kira-kira penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (tampak seperti apa dan tidak tampak seperti apa) supaya anak paham maksud aturan tersebut.
 Aturan ini perlu ditempel di tempat yang semua anggota keluarga dapat melihat, termasuk anak yang masih kecil. Mungkin mereka belum dapat membaca tapi mereka dapat memahami maksud dari tulisan yaitu tentang aturan.
Memberikan KONSEKUENSI saat anak melanggar ATURAN:
 Mengambil hak anak
 Memberikan tugas yang tidak dikerjakan anak
 Memberikan waktu untuk berpikir (“time outs”)
 Contoh-contoh di atas ini merupakan konsekuensi atau sanksi pada hal-hal yang ditinggalkan anak daripada memukul atau berteriak-teriak
 Ketika anak masih kecil, ortu sebaiknya konsisten dengan memberikan konsekuensi dari perilaku anak
 Setelah anak besar, ortu sudah dapat berkomunikasi dengan anak dan anak juga sudah memahami apa yang dimaksud dengan konsekuensi
 Anak sudah dapat memilih apa yang akan dikerjakannya

Melakukan DISKUSI KELOMPOK setiap akhir pekan:
• Ortu sebaiknya melakukan diskusi kelompok setiap hari Ahad
• Ortu meminta anak-anak untuk menyampaikan hal-hal yang sudah mereka lakukan atau langgar berkaitan dengan aturan yang telah disepakati
• Ortu memimpin diskusi untuk menyelesaikan beberapa pelanggaran yang dilakukan kakak atau adik
• Ortu juga perlu menjelaskan mengapa memberikan konsekuensi pada perilaku yang melanggar aturan
• Ortu atau anak dapat menyimpulkan kesepakatan baru apa yang sama-sama disepakai untuk dikerjakan agar tidak lagi terjadi pelanggaran aturan
• Tujuan dari diskusi kelompok adalah melatih anak berkomunikasi dengan ortu ketika ada masalah (maupun jika tidak ada masalah) sehingga tercapai kesepakatan baru yang sudah dipahami bersama dan akan dicoba untuk dilakukan pekan berikutnya.
• Biasanya dilaksanakan bersamaan dengan pembagian uang saku untuk masing-masing anak.
Ketika anak MENGIKUTI ATURAN:
 Ortu sebaiknya tidak memberikan hadiah tapi memberikan penghargaan atas usaha yang dilakukannya
 Ortu mungkin perlu mengobrol dengan anak saat anak melaksanakan aturan, untuk memberikan pemahaman pentingnya usaha optimal untuk meningkatkan prestasi atau melakukan yang terbaik sesuai dengan apa yang disebutkan dalam aturan
 Ortu boleh memberikan kesenangan setelah anak berusaha yang terbaik yang dapat mereka lakukan atau mendiskusikan kesenangan apa yang mau dilakukan anak setelah berusaha seoptimal mungkin (merayakan usaha optimal yang dilakukan anak).
 Bantulah anak untuk melakukan sesuatu karena ia senang melakukannya bukan karena takut dihukum atau mendapatkan hadiah.
Penutup
Kebanyakan ortu menginginkan anaknya untuk mandiri. Anak yang mandiri tidak selalu menurut apa kata ortu, tapi mereka akan bertanya. Pertanyaan dari anak bukan merupakan sikap melawan tapi mencoba lebih memahami apa keinginan ortu. Hadapilan dengan sabar dan kreatif.
Anak terlahir dalam kondisi baik. Fitrah menunjukkan bahwa anak seperti tambang yang harus digali karena ada sejumlah potensi-potensi yang baik di dalam diri anak. Anak sebenarnya hanya membutuhkan bimbingan dan disiplin agar anak tahu bagaimana berperilaku baik serta memberikan bantuan agar tahu apa yang terbaik untuknya. Disiplin dan bimbingan kepada anak lebih baik dalam mendidik anak dibanding pukulan atau teriakan. Anak akan berkembang lebih baik jika ortu lebih banyak mendidik, mengajar daripada menghukum.
Anak-anak kecil lebih baik jika dibimbing dengan disiplin. Usia tiga tahun anak sudah dapat berbicara dan mendengar alasan mengapa satu tingkah laku boleh atau tidak boleh dilakukan. Anak sudah dapat memahami aturan dan konsekuensi. Anak usia tujuh tahun ke atas membutuhkan penghargaan atas kemampuannya mengendalikan dirinya. Usapan di bahu, pelukan, atau cara lainnya dapat diberikan kepada anak yang sudah besar.
Hindari menggunakan alat atau tangan untuk memukul anak. Metode menghukum akan merusak harga diri anak, membangun rasa dendam pada anak, dan memberikan masalah di masa depan anak. Wallahu a’lam bishowab. Semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi serta solusi.
Materi ini disampaikan oleh Dra. Ery Soekresno, Psi. M.Sc.(Edu) Pada seminar smart parenting SD Al Irsyad Al Islamiyyah 02 Purwokerto, pada hari Ahad, 14 April 2013 di Gedung Rhoedhiro, UNSOED Purwokerto

Pos ini dipublikasikan di Psikologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s