Membiasakan Anak Suka Membaca

Saat ulangan Bahasa Indonesia, kemenakan saya, Ihsan (kelas 1 SD) mendapat pertanyaan: Kalau membaca, kita sebaiknya mencari tempat yang…. (titik-titik itu harus dijawab murid). Ihsan menjawab: adem.
Saya tertawa mendengar cerita yang dikisahkan ibunda Ihsan itu. Namun, buat saya, jawaban Ihsan adalah benar sebenar-benarnya! Bagi para pencinta buku, salah satu kenikmatan dunia adalah membaca di tempat yang nyaman, di mana pun dan kapan pun itu.
Ihsan senang membaca. Dan sekecil itu ia sudah merasakan: kalau membaca harus nyaman, di tempat yang sejuk alias adem. Ihsan memang suka membaca buku di kamarnya yang sejuk.

Kiat agar anak gemar membaca
Saya teringat buku lama dari Mary Leonhardt berjudul 99 Cara Menjadikan Anak “Keranjingan” Membaca (Penerbit Kaifa, 2000). Leonhardt adalah seorang yang rajin mempromosikan pentingnya buku dikenalkan anak sedari kecil. Dalam pengamatan saya, ibunda Ihsan mempraktikkan apa yang ditulis Leonhardt ini.
Misalnya, saat belum bisa membaca, Ihsan dan adiknya diminta memilih sendiri buku yang mereka inginkan untuk dibacakan. Menurut Leonhardt, ini memang salah satu kiat untuk menjadikan anak suka buku.
Biarkan anak-anak memilih buku yang menurut kita kacangan. Biarkan mereka memilih buku yang sama berulang-ulang. Anak-anak selalu senang mendengarkan buku favorit mereka dibacakan berulang-ulang (walaupun kita yang membacanya merasa bosan setengah mati!). Yang terpenting, menurut Leonhardt, anak-anak menyadari bahwa kita menghormati selera mereka dan mereka juga menikmatinya.
Kiat lainnya, bacalah dengan sikap santai. Ciptakanlah kegembiraan. Ucapkanlah dengan keliru kata-kata dalam buku tersebut supaya anak-anak dapat memperbaiki kekeliruan Anda. Berkisahlah dengan beragam suara dan tertawalah bersama-sama. Saran Leonhardt, jadikan membaca sebagai saat-saat menyenangkan dan penuh kekonyolan.
Jika perhatian anak-anak mulai mengendur, apa yang harus dilakukan? Leonhardt menyarankan: percepatlah bacaan Anda. Karanglah akhir cerita yang kontekstual dan Anda perlukan. Misalnya, “Dan sekarang sang beruang harus mandi—sama seperti anak Bunda ini…!”
Hal yang juga penting adalah kegiatan bermain yang melibatkan buku. Misalnya, mendorong anak-anak untuk “membacakan” dongeng sebelum tidur kepada boneka-boneka mereka, atau bermain tentang kegiatan di toko buku atau perpustakaan. Ini penting, menurut Leonhardt, agar buku selalu menjadi bagian dari keseharian anak-anak.

Membaca mandiri
Merujuk ke kiat dari Mary Leonhardt, orangtua sebaiknya memang menjadikan anaknya pembaca yang mandiri sejak kecil. Karena itu, sarannya: jangan terlalu sering membacakan cerita untuk anak-anak agar mereka tidak terlalu bergantung pada kita dalam mendapatkan kegembiraan membaca. Ini tentu saja harus diterapkan pada anak yang mulai bisa membaca sedikit-sedikit, bukan kepada anak yang belum bisa membaca.
Dalam pandangan Leonhardt, tujuan akhirnya adalah orangtua memiliki anak-anak yang keranjingan membaca, bukan hanya terpesona mendengarkan orangtuanya membacakan buku cerita. Maka, saat anak-anak sudah bisa membaca sedikit-sedikit, orangtua harus mengurangi waktu membacakan cerita untuk mereka. Dengan begitu, mereka tidak manja atau malas membaca sendiri.
Salah satu cara untuk menjadikan anak mandiri dalam membaca adalah dengan berpura-pura kelelahan atau mengantuk ketika membacakan sehingga tak sanggup menyelesaikan. Setelah itu, minta anak melihat sendiri buku cerita tersebut. Saat anak mulai bisa membaca, tindakan ini akan mendorong anak untuk mau tidak mau berusaha membaca sendiri, apalagi jika ceritanya menarik dan buku cerita itu adalah favoritnya!

Penuhi rumah dengan buku
Kiat penting lainnya untuk membiasakan anak suka buku adalah dengan membuat buku ada di sekeliling anak sejak kecil. Penuhi rumah dengan buku. Taruhlah buku cerita anak-anak di tempat yang mudah dijangkau anak, sehingga anak dapat mengambilnya kapan pun ia suka.
Memenuhi rumah dengan buku bisa dengan cara rajin membeli buku (bisa di toko buku, saat pameran, bahkan di toko loak). Sebaiknya, anak diajak saat membeli buku dan kegiatan ini sepatutnya jadi kebiasaan rutin bagi keluarga. Bagus sekali kalau anak-anak memilih sendiri bukunya, di samping beberapa yang dibelikan orangtua. Antusiasme memilih buku sendiri saat membeli di toko akan membuat anak makin terdorong untuk cepat-cepat membaca buku tersebut.
Terakhir, yang amat penting dan mendasar untuk membuat anak-anak suka membaca, adalah orangtua juga harus rajin membaca. Anak-anak adalah peniru yang baik. Dengan pengamatan secara visual yang dilakukannya, anak-anak akan meniru kebiasaan orangtuanya. Jadi, kalau mau membuat anak punya kebiasaan suka membaca, orangtua haruslah menunjukkan ia juga pembaca yang baik, baik itu buku atau media cetak lainnya.
Orangtua sebaiknya bahkan harus menonjol-nonjolkan kebiasaan membaca di hadapan anak-anaknya. Tak apa bersikap lebay sedikit. Misalnya, secara demonstratif membaca dengan tumpukan buku di hadapannya. Atau membaca koran atau majalah dengan bergaya, agak sedikit bersandar di sofa. Atau, orangtua memperbincangkan isi buku yang dibaca dengan antusias di hadapan anak.
Pendeknya, orangtua harus memperlihatkan kepada anak bahwa membaca itu mengasyikkan! Dengan demikian, kita dapat berharap anak-anak memfotokopi perilaku ini: mereka juga jadi suka membaca!

Pos ini dipublikasikan di Keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s